Peradaban Awal Mesopotamia bertempat diantara 2 Sungai yang subur di daerah yang saat ini menjadi Iraq. Sangat Subur sampai-sampai daerah ini dikenal dengan sebutan “Fertile Crescent” dan Peradaban Eufrat dan Tigris dikenal dengan keragaman mereka.

Secara Istilah Daerah atau Toponimi ,Mesopotamia berasal dari dua kata Bahasa Yunani Kuno yakni (Μεσοποταμία) :

Meso = Diantara

Potámi =Sungai

Dan diterjemahkan menjadi “Tanah/Daerah Diantara Sungai-Sungai”, Mesopotamia adalah peradaban yang memberikan kita beberapa hal Diantaranya :

  1. Kebudayaan dengan dokumentasi Tulisan yang lebih jelas
    (yang bisa dimengerti, tidak seperti Peradaban Indus)
  2. Kebudayaan Pertama dengan,Aturan Hukum Tertulis (Codex Hammurabi),
  3. Mucul Istilah “Mata dibayar oleh Mata”
  4. Kebudayaan Pertama dengan,Sistem Pajak yang dikenakan pada masyarakat.
  5. Epos Gilgamesh salah satu karya sastra tertua.

Mari Kita Mulai Ceritakan !

Peradaban awal manusia yang kita bahas sekarang Adalah Mesopotamia, Bangsa Sumeria, Penduduk Mesopotamia membangun Kehidupan mereka secara lebih tertata sejak 6500-3800 Tahun Sebelum Masehi, Namun Kemajuan dan bukti Arkeologi lebih banyak ditemukan pada Zaman Uruk, Yakni Sekitar 4000 hingga 3100 Tahun sebelum masehi.

Periodisasi pada Peradaban Sungai Euphrates dan Tigris dimulai dari bangsa Sumeria, Namun karena periode ini panjang, Mari kita langsung Masuk Ke Periode Uruk.

Uruk

ku7-1-6-2_uruk
Reruntuhan Uruk. Gambar dari Khan Academy.

Uruk (4400-3100 SM) adalah Kota yang dalam Epic Of Gilgamesh disebut sebagai kampung Halama dari seorang Gilgamesh.

Kota Uruk dikenal sebagai kota yang sudah mempunyai kepercayaan terhadap adanya Tenaga diluar kemampuan Manusia yang berpengaruh pada kehidupan Yakni Dewa-Dewa, Di Epos Gilgamesh diceritakan bahwa para Dewa-dewa Uruk sangatlah kejam dan juga kerap menghardik penduduk Uruk,

Bahkan di suatu malam Karena manusia terlalu berisik, Dewa-dewa yang marah tidak segan utuk menurunkan Banjir besar karena manusia terlalu menganggu sampai-sampai peradaban Lenyap, Epos Gilgamesh memang hanya Mitologi, Namun perisitiwa Banjir Besar ini sering dikaitkan dengan Banjir Air Bah Besar Zaman Nuh di Kitab Kejadian.

Gilgamesh.jpg
Patung Gilgamesh

Oleh karena Dewa-dewa ini sifatnya tidak bisa diprediksi atau “moody” maka rakyat Uruk berusaha mencari cara untuk berkomunikasi denga Dewa, dan hadirlah para Pendeta dan juga pemilik Lahan yang mengaku bisa bicara denga Dewa dan akhirnya diangkat menjadi orang penting demi keselamatan Kota.

Peradaban Sungai Indus tidak diketahui siapa yang memimpinnya ataupun mengapa para pemimpin ini mempunyai hak untuk memimpin, Namun di Peradaban Sungai eufrat dan Tigris, Terima kasih kepada sistem tulisan yang lebih tertata,

Kita tahu bahwa pada awalnya penduduk Uruk tunduk kepada dewa-dewa dan karena ketundukkan ini, Mereka pun membutuhkan orang yang bisa membaca tanda dari dewa agar tidak melanggar aturannya, Dan beberapa Pendeta yang mengaku bisa membaca tanda dari Dewa ini diangkat menjadi petinggi Kota.

ancient_ziggurat_at_ali_air_base_iraq_2005
Monumental Temple pada Mesopotamia Disebut “Ziggurat” Tempat tinggal Pendeta

Bangunan Peribadatan dibangun untuk tempat tinggal Pendeta, Biasanya Pendeta Lelaki akan mencari perempuan cantik dan dinikahi, Supaya mempunyai anak yang bisa meneruskan menjadi Pendeta.

Lalu Bagaimana Pendeta Ini memerintah ?

Fertile Crescent Mesopotamia memang subur, Namun Sistem Irigasinya tidak semudah sungai Indus yang banjirnya saja ada jadwalnya, Namun Sungai Eufrat dan juga Tigris lebih sulit dikelola, Oleh karena itu Pemilik Tanah bisa mempunyai Budak-budak agar dipekerjakan untuk irigasi Sungai Eufrat dan Tigris agar sekitar sungai bisa ditanam dan juga Air mengalir untuk lahan-lahan pertanian.

Hasil Panen para Tuan Tanah diberikan Kepada Pendeta, Untuk selanjutnya dibagikan ke para pekerja-pekerja dengan takaran yang sama, Semacam Sistem Proto-Sosialisme, Bekerja sepenuhnya untuk Negara, Agar dibayar Oleh Negara.

Namun Pendeta-pendeta ini melakukan ritual dipercaya sebagai “penenang” agar dewa-dewa tidak marah, Namun 1000 tahun Kemudian di Kota Uruk bukti arkeologi menunjukkan Bahwa mereka juga mempunyai Palace atau Istana Kerajaan.

Para Raja ini melakukan “pernikahan suci” atau “sacred marriage” dengan para Pendeta-pendeta agar Legitimasi Mereka terjaga dan rakyat menganggap mereka sebagai bukan hanya Raja, Tapi juga Raja yang dibimbing Oleh Dewa karena menikah dengan Pendeta.

Cuneiform

Beberapa Dokumen menunjukkan pernikahan-pernikahan Suci antara Raja dengan Pendeta dan juga dokumen-dokumen membuat Sejarah peradaban Mesopotamia lebih mudah dipelajari karena tulisan Mereka.

Model tulisan mereka disebut “Cuneiform”, Mencatat tentang kebijakkan Pemerintahan, dan juga beberapa data transaksi Jual beli di Zaman mereka.

Dan kebanyakan isi dari Cuneiform isinya adalah tentang sistem barter Gandum dan Juga Ternak.

Sistem penulisan orang Mesopotamia juga membuat Spesialisasi Pekerjaan mereka lebih variatif, Bukan hanya buruh kasar tapi juga para orang-orang yang mencatat mengenai beragam Hal, Dan orang-orang yang bisa menulis di zaman mesopotamia bisa dianggap sebagai orang orang yang Elit.

Dan sistem sosial yang membatasi Kaum yang Bisa menulis dan yang tidak bisa menulis ini bertahan hingga saat ini, Mereka yang Menulis akan menjadi kaum Elit dan mereka yang tidak menulis akan menjadi buruh kasar atau bahkan Budak.

Selain itu Tulisan di Era ini juga menandai “resminya” Sejarah karena Sejarah melalui Arkeologi kadangkala cukup sulit untuk mengidentifikasi Peristiwa secara detail, Tapi dokumen yang ditulis oleh saksi sejarah, Bisa cukup dipercaya keakuratannya.

Terima kasih untuk Sistem Tulisan Mesopotamia !

Dilema Kebutuhan

Fertile Crescent memang Fertile, Tapi di Fertile Crescent, Gak ada yang lain kecuali makanan, dan untuk kebutuhan macam Kain, Metal, Kayu, semuanya harus didapat dengan transaksi dengan Peradaban Lain, Salah satunya dengan orang-orang Indus dan juga orang orang Timur di daerah Mesir.

Karena Dilema Kebutuhan Ini, Akhirnya serangkaian Kota-kota Seperti Uruk yang ada di Mesopotamia, Berkerja sama untuk bersatu menjadi Kerajaan agar mereka bisa terhindar dari bahaya Kelaparan dan saling menukar apa yang mereka punya dengan apa yang mereka butuhkan.

dan Sistem Kerajaan ini merubah sistem Pertanian yang bekerja untuk negara menjadi bekerja untuk pemilik Lahan, Pemilik Lahan menjual Hasil panen mereka sendiri, Dan mendapat kekayaan sendiri, Kerajaan memperbolehkan Hal ini asalkan para Pemilik Lahan membayar Pajak yang disyaratkan oleh Pihak Kerajaan. Semacam Sistem Kapitalis awal dengan pemilik Tanah Sebagai Penguasa.

Nah Inilah Sistem Pajak awal yang diterapkan peradaban manusia, Dan Pajak ini membantu banyak pihak untuk tidak mengalami kelaparan karena Kerajaan juga membagikan hasil pajak kepada mereka yang miskin pada saat itu dan tidak bisa membeli makanan.

Sistem Kerajaan-Kerajaan pada saat itu juga saling bersatu dan akhirnya memunculkan salah Satu Tokoh yang disukai oleh para Penggemar Hukum, Yakni Hammurabi.

hammurabi-ab
Hammurabi dengan Jenggot nya yang lumayan majestic. (image : history.com)

Hammurabi adalah Raja Ke 6 Babylon Baru dari Dinasti yang menguasai 1792 SM hingga 1750 SM. Ia menjadi raja Babylon 1792-1750 SM namun dampaknya mempengaruhi bagaimana Hukum harus ditegakkan bahkan hingga saat ini.

Beberapa Hukumnya adalah mengenai Irigasi, Bagaimana orang yang merusak Atau merubah Irigasi umum harus dihukum, Bagaimana Pencuri Ternak harus dihukum dan juga sistem penghukuman dengan Saksi yang harus jelas sebelum Vonis Dijatuhkan.

Codex Hammurabi adalah salah satu warisan terpenting Peradaban ini.

Dan dalam Codex Hammurabi juga menekankan keadilan dalam menghukum pelanggaran, dan dari Hammurabi juga istilah “Mata Dibayar Mata” muncul, Bukan dari Itachi Uchiha.

Bahkan jika sebuah bangunan roboh lalu pemilik bangunan itu anaknya meninggal tertimpa bangunan, Maka Hukum akan menyatakan Anak dari Arsitek pembangun rumah ini harus dibunuh.

Dan anak kecil tidak tahu apa-apa ini meninggal karena kesalahan ayahnya.

Intermezzo : Untungnya Hukum Hammurabi mengenal sistem Praduga Tak Bersalah, Namun menurut saya tetap saja kalau ada Begal Motor di Zaman Hammurabi bakal dipukulin sampe patah-patah tulang ….

Hammurabi juga di beberapa dokumen menggambarkan dirinya sebagai “Gembala” dan juga “bapa”, Terdengar Familliar bagi mereka yang membaca Sejarah-Sejarah Agama.

Runtuhnya Babylon

Babylon runtuh saat kerajaan-kerajaan daerah ini gagal berkonsolidasi dan Para kaum Nomaden berhasil menghancurkan Babylon dan mengambil alih kota terbesar. Namun Para Nomaden ini hanya menjatuhkan penguasa, Tidak menyerang Kaum Sipil.

Kaum Sipil juga semakin tidak suka pada Kerajaan karena Pajak yang terus menerus naik dan pekerajaan untuk melayani kerajaan semakin banyak.

Dan Kaum Sipil Yang Lemah ini tidak bisa apa apa saat Kaum Assyrian datang, Karena mereka adalah Nomadic yang lebih brutal dibanding Nomadic manapun, Dan menghancurkan Babylon.

Empire

Dari Zaman Territorial Kingdom Babylon, Penguasa Assyrian memutuskan untuk membuat “Empire”, Bukan empire star wars, Tapi Empire ini adalah salah satu sistem Politik paling stabil di Era Awal Kebudayaan, Karena Kontrol Masyarakat bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Termasuk Kekerasan, karena tentara mereka dikenal sebagai Tentara Brutal Yang bisa menguasai Seluruh Mesopotamia hingga Mesir dalam waktu yang relatif cepat.

Serta Kontrol masyarakat lainnya adalah memisah-misahkan orang dari keluarga dan kerabatnya, Para orang-orang yang mempunyai kemampuan Ekstra diperah tenaganya, Termasuk mereka yang mempunyai berbagai macam Keahlian akan dipindah pindah untuk membangun Empire.

Mengapa mereka melakukan Kekerasaan ?

Orang neo-Assyria memuja Ashur, Dewa yang menurut mereka menyukai  Perang.

640px-wall_relief_depicting_the_god_ashur_28assur29_from_nimrud
Ashur, Figur dewa dengan Panah dan menjadi alasan sifat keras orang Assyria

Jika Orang Neo-Assyria bisa terus menerus mengalami kemenangan Saat berperang Ashur akan terus mendukung Raja, dan Raja adalah sebagai perwakilan Ashur di Dunia, Sehingga raja terus menerus melakukan Perang.

Dan yang terjadi adalah masyarakat dalam negeri terus menerus dikerahkan untuk membantu perang baik itu dari segi panen, Makanan, Prajurit hingga senjata.

Ashur juga mempunyai pesan bahwa jika Orang Assyria kalah, Maka Dunia bisa hancur.

Dan orang-orang percaya akan hal itu melalui Propaganda yang dilakukan Raja dengan serangkaian orang kepercayaannya

Dan Yang Terjadi adalah Saat Orang Assyria kalah Perang, Mereka shock.

Setelah Menguasai Mesir di Sekitar 650 SM, Orang Assyria kesulitan melakukan kontrol terhadap daerah-daerah kekuasaan mereka, Saat kecolongan, salah satu kota terbesar Kerajaan Neo-Assyria yakni Nineveh dihancurkan oleh Kaum Nomaden. Dan Kerajaan Ini runtuh dan menghilang. Namun para penduduk tetap ada disana dan berkembang menjadi Iraq dan Timur tengah sampai saat ini.

Bisa disimpulkan bahwa Di Peradaban Eufrat Tigris, Kekuasaan dari Hal Supranatural dan Dari Manusia naik turun hingga Peradaban Ini Dihancurkan, Mulai dari dewa-dewa Gilgamesh, Kekuasaan Pendeta, Manusia mengambil Alih dengan Hukum Manusia dari Hammurabi, Lalu Kembali Ke Deifikasi Ashur, dan perubahan kekuatan ini menjadi hal besar.

Bahkan di era Informasi dimana Sekularisme dan Agama bertemu, Manusia akan selalu bergerak dalam roda perputaran kekuasaan.

 

Thanks For reading. Comment For Question/Correction. Enjoy😀

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s