Polarisasi dan Populisme


Pasca Pemilihan Kepala Daerah Jakarta optimisme warga dunia maya terhadap Indonesia seolah menurun, mereka bilang bahwa hasil Pemilu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia kurang belajar, Rasis, Tidak peka terhadap kebeneran, Mudah dibohongi, dsb, Beberapa bahkan mengucapkan kata-kata yang menurut saya bisa menyakiti hati sanak saudara sebangsa mereka. 

Warga dunia maya lupa, Bahwa suara di dunia maya untuk negara berkembang Seperti Indonesia tidak bisa begitu saja beresonansi ke Masyarakat, Karena berapa banyak Kalangan bawah yang membaca linimassa Twitter di waktu senggang mereka? berapa banyak Kalangan bawah yang mengerti dan membaca tulisan para “Aktivis” dengan bahasa yang maha-tinggi Dan diksi yang agaknya tidak bersahabat dengan orang awam. 
Mereka lupa, Bahwa dengan mereka Berteriak Seperti itu, mereka seolah mengopinikan pemisahan dan pelepasan diri, Konsep Persatuan Indonesia hanya berlaku jika mereka bertemu dengan orang yang sependapat. 

Polarisasi, Seolah ada 2 kutub yang ingin saling menjauh, Lupa bahwa kutub-kutub ini adalah satu bagian dari Bumi. 

Again memang bukan hanya Jakarta atau Indonesia, Dunia mengalami Polarisasi semenjak satu dekade kebelakang, Dari Mulai pergerakan politik Tea Party Amerika, UKIP di Inggris dengan retorika bahwa UK sebaiknya menjauh dari Uni Eropa yang membuat Yunani Bangkrut, beberapa sosok Sayap Kanan muncul sebagai “populisme” sosok yang jauh dari politik  establishment dimana mereka dianggap sebagai sosok yang jauh dari kebusukan sistem yang sudah Ada, Dan berbeda dengan politisi  establishment.

Donald Trump, Nigel Farage, Boris Johnson, Marine La Pen, Frauke Petry, Shinzo Abe. 

Sosok-sosok diatas adalah beberapa nama yang dianggap sebagai vox  populi , mereka yang menyuarakan ketakutan dalam politik, Takut Pekerjaan diambil orang asing, Takut Nasionalisme luntur karena globalisasi, Takut Orang dari golongan tertentu, Takut negara lain invasi, Takut rugi kalau Bantu negara lain, Takut harga minyak dan kebutuhan Naik, Takut terjerat hutang internasional.

Membentuk rakyat yang paranoid.

Tapi apakah sosok-sosok ini salah ?

atau mereka hanya “buah” dari Demokrasi, Dimana suara terbanyak selalu akan menang ? Dan kadang suara terbanyak bukanlah mereka yang lantang di dunia maya, tapi mereka yang merasakan sendiri hasil kebijakkan dan memutuskan untuk bermain dalam realitas. 

Meskipun kesadaran terhadap realitas tersebut muncul karena ketakutan yang dibangkitkan seorang sosok yang dianggap mewakili mereka.
Di sisi lain masih banyak orang yang percaya pada politik kerjasama luar negeri, dengan pembentukan kesatuan global di satu atap, Meskipun atap tersebut Biasanya tingginya ditentukan oleh negara tertentu, dan mereka menjadi suatu simbol Hegemoni yang akhirnya menguasai. 

Globalisasi berisi kerjasama pertukaran informasi dan keterbukaan.

Namun globalisasi mengerus Identitas dan menciptakkan dunia dengan kultur yang sama dan menghilangkan keunikan.

Cowok semuanya nonton Jepang, cewek semuanya nonton Korea, manufaktur semuanya di China, Baju semuanya dari merek Barat. 

Sulit.

 Amerika mundur dari Perjanjian iklim Paling sukses sepanjang sejarah PBB, yang Korea Utara ikut menandatangani, Inggris dengan Brexit, dan sentimen American First semakin bergaung. 

Spektrum Politik memisahkan Kita dengan cara yang menyakitkan. 

Tulisan ini singkat saja, Untuk pembahasan mengenai Populisme lebih lanjut akan Ada posting khusus. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s